Sejarah Seminari Menengah St. Laurensius Ketapang
Akar Panggilan di Tanah Ketapang
Seminari Menengah St. Laurensius lahir dari sebuah kerinduan mendalam Keuskupan Ketapang akan hadirnya para pelayan altar dari putra daerah. Jauh sebelum tahun 1983, Keuskupan menghadapi tantangan besar: jumlah imam semakin berkurang seiring usia para misionaris Kongregasi Passionis (CP) asal Belanda yang kian lanjut, sementara bantuan tenaga imam dari keuskupan lain sangat terbatas.
Pada masa itu, para calon seminaris harus dikirim ke Seminari Nyarungkop dengan jumlah yang sangat sedikit. Menyadari kebutuhan akan wadah pembinaan mandiri untuk menggali potensi panggilan di pedalaman, maka dirintislah sebuah lembaga pendidikan calon imam di Ketapang pada 14 Juli 1983.
Lintasan Sejarah dan Perkembangan
Perjalanan seminari ini melewati berbagai fase perjuangan, mulai dari keterbatasan fasilitas hingga kemandirian bangunan:
Masa Awal (1983 - 1986): Para seminaris awal menempati kamar di asrama karyawan Keuskupan. Di bawah bimbingan Sr. Maria Goretti, OSA, mereka belajar mandiri sambil menempuh pendidikan formal di SMA St. Yohanes dan belajar bahasa Latin dari Pastor Bernardinus, CP.
Masa Transisi (1986 - 1989): Karena kesibukan tugas suster pembimbing, para seminaris sempat menitipkan pembinaannya di asrama Bruder FIC dan asrama St. Yusuf.
Titik Balik & Nama Pelindung (1989): Pada Agustus 1989, Pastor Zacharias Lintas menunjuk Fr. Laurensius Sutadi (yang saat itu sedang menjalani masa TOP) untuk memberikan perhatian khusus bagi para calon imam. Momen ini berdekatan dengan pesta nama St. Laurensius, sehingga nama tersebut dipilih sebagai pelindung seminari. Tanggal 10 Agustus 1989 ditetapkan sebagai tonggak dimulainya perhatian khusus pada panggilan imam di Ketapang.
Kemandirian (1990 - 1994): Untuk efektivitas pembinaan, seminaris dipindahkan ke Pusat Pastoral BIMA di Payakumang pada Juli 1990. Pembangunan gedung khusus seminari pun dimulai pada Mei 1993, hingga akhirnya pada 5 Februari 1994, Rm. Ph. Istejamaya resmi ditugaskan sebagai Direktur (Rektor) pertama.
Daftar Rektor dari Masa ke Masa
Kepemimpinan di Seminari Menengah St. Laurensius terus berlanjut demi menjaga nyala api panggilan para seminaris. Berikut adalah daftar para imam yang pernah melayani sebagai Rektor:
| Periode | Nama | Jabatan / Status |
| 1983 – 1986 | Sr. Maria Goretti, OSA | Pembimbing Utama (Masa Rintisan) |
| 1989 – 1994 | Frater Laurentius Sutadi | Pendamping Khusus (Masa TOP) |
| 1994 – 2004 | RD. Ph. Istejamaya | Rektor |
| 2004 – 2006 | RD. Stefanus Magut | Rektor |
| 2006 – 2008 | RD. Ph. Istejamaya | Rektor (Periode Kedua) |
| 2008 – 2011 | RD. Atmoharjono | Rektor |
| 2011 – 2018 | RD. Cyrilus Ndora | Rektor |
| 2018 – 2022 | RD. Andreas Setyo Budi Sambodo, Pr | Rektor |
| 2022 – 2025 | RD. Fransiscus Suandi | Rektor |
| 2025 – Sekarang | RD. Agustinus Mudjianto | Rektor |
Nilai Dasar Pembinaan
Sejak awal, Seminari St. Laurensius memiliki semangat inklusif. Menyadari kondisi umat di pedalaman, seminari tidak hanya mengutamakan syarat intelektualitas tinggi, melainkan mengedepankan keterbukaan bagi setiap kaum muda lulusan SMP dan SMA yang memiliki niat tulus untuk menanggapi panggilan Tuhan.
Di sini, setiap calon imam dibentuk menjadi pribadi yang mandiri, dewasa, dan siap sedia diutus ke tengah umat.
