SUKARIA – Suasana penuh syukur dan haru menyelimuti Paroki Sukaria saat empat putra terbaik Gereja melangkah menuju altar untuk menerima Tahbisan Diakonat. Mereka adalah Frater Memet, Frater Bona, Frater Juandi, dan Frater Sutri. Peristiwa suci ini tidak hanya menjadi tonggak sejarah bagi perjalanan panggilan mereka, tetapi juga menjadi pesta iman bagi umat setempat dan keluarga.
Perjuangan di Balik Perjalanan Misi
Kehadiran para Seminaris dari Seminari Menengah St. Laurensius Ketapang menambah kemeriahan acara ini. Namun, perjalanan menuju Sukaria bukanlah tanpa tantangan. Mengingat kondisi medan yang tak menentu, rencana awal menggunakan unit Hi-Ace terpaksa dibatalkan atas saran Romo Frans dan Romo Yos demi keamanan.
Rombongan akhirnya berangkat menggunakan kendaraan Rush, dibantu oleh keluarga salah satu seminaris (Papa Nuan), serta iring-iringan empat sepeda motor. Meski sempat diwarnai insiden kecil di mana motor MegaPro legendaris milik mendiang Romo Edu yang dikendarai seminaris mogok di tengah jalan, semangat misi tak padam. Berkat bantuan Tuhan dan sedikit "trik" mekanik, perjalanan dapat dilanjutkan hingga mencapai tujuan dengan selamat.
Perjumpaan dan Persiapan Hati
Setibanya di Paroki, kehangatan persaudaraan langsung terasa. Para ordinandi (calon diakon) nampak tenang mempersiapkan diri sembari menyantap sarapan bersama. Di sela-sela waktu tersebut, nuansa kolegialitas antar-imam juga terlihat dari perbincangan hangat dengan Romo Ale yang datang jauh dari Balai Semandang.
Setelah persiapan fisik dan batin dirasa cukup, seluruh rombongan bergerak menuju EchoCamp, lokasi utama di mana prosesi agung ini dilaksanakan.
Inkulturasi Budaya: Gendang Sukaria dan Tarian Flores
Perayaan tahbisan diawali dengan ritual adat setempat sebagai bentuk penghormatan terhadap kearifan lokal. Suara dentuman gendang khas Sukaria yang ritmis mengiringi perarakan menuju altar, menciptakan suasana megah sekaligus sakral.
Uniknya, perayaan ini menjadi bukti indahnya keberagaman Gereja. Selain tradisi lokal, para penari khas Flores juga turut tampil di barisan depan prosesi, menghantar Bapa Uskup, para imam, dan keempat calon Diakon menuju meja perjamuan Tuhan.
Puncak Sakramen: Mengenakan Dalmatik di Tangan Orang Tua
Misa penahbisan berlangsung dengan sangat khidmat. Momen paling mengharukan terjadi saat keempat Frater tersebut secara resmi ditahbiskan menjadi Diakon. Sebagai simbol pelayanan, mereka mengenakan Dalmatik—pakaian khas Diakon.
Yang membuat suasana semakin emosional adalah ketika Dalmatik tersebut dipakaikan langsung oleh orang tua masing-masing. Di balik kain sutra itu, terselip doa, air mata, dan restu tulus dari ayah dan ibu yang telah merelakan putra mereka sepenuhnya untuk melayani umat Allah.
Menanam Harapan di EchoCamp
Setelah perayaan Ekaristi selesai, acara dilanjutkan dengan sesi foto bersama sebagai kenang-kenangan atas peristiwa bersejarah ini. Namun, perayaan tidak berhenti pada seremoni saja. Sebagai wujud kepedulian terhadap keutuhan ciptaan, para Diakon baru melakukan penanaman pohon di area EchoCamp.
Penanaman pohon ini menjadi simbol bagi pelayanan mereka ke depan: agar panggilan diakonat mereka terus bertumbuh, berakar kuat dalam sabda Tuhan, dan kelak memberikan pengayoman serta buah yang manis bagi seluruh umat.
Selamat melayani, Diakon Memet, Diakon Bona, Diakon Juandi, dan Diakon Sutri!
“Sebab sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani.” (Mat 20:28)



















0 Comments